Pagi ituu..
Suasana duka menyelimuti rumahnya. Teras rumah telah dipenuhi banyak orang.
Hitam. Baju kukuh hitam yang ia kenakan. Tidak terlihat sedih di
raut wajahnya. Tapi, aku yakin dia menutupi dan tidak mau kami
mengetahuinya.
"hey" aku yang memulai dengan berjabat tangan.
Dia tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
Kamipun dipersilahkan duduk. Teman-teman mencoba untuk menghibur
dan tidak membahas kronologi kepergian ibunya. Namun, mata tidak bisa
berbohong. Sangat terlihat dari tatapan matanya yang kosong dan ditambah
dengan seringnya ia melamun..
Selang beberapa waktu. Dia berkata padaku
"Cung, masuk aja kalo mau liat ibukku" pintanya dengan ramah.
"Hah?" Aku sedikit terkejut mendengarnya
"Oh iyaa, masak aku sendirian?" Lanjutku dengan polos.
"Ya ngajak siapa ta siapa. Agewes, masuk-masuk aja, gak papa kok"
Aku heran, mengapa hanya aku yang dipersilahkan untuk masuk. Dan nampaknya dia sangat ingin aku menuruti permintaannya. Namun sayang, keraguan yang ada membuatku menyia-nyiakan kesempatan itu. Sangat bodoh menyia-nyiakan kesempatan melihat ibunya untuk terakhir
kali. Menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat wanita yang selama ini selalu dia ceritakan padaku..
Setelah di solatkan, kami mengikuti acara pemakaman dengan jarak yang cukup jauh.
Didekat sawah, becek, jauh, dan tenang. Mungkin itu sedikit gambaran untuk tempat pemakaman ibunya.
Ayah, kakak, dan kedua adiknya tak kuasa menahan tangis. Hanya
dia yang tetap tegar melihat kepergian 'bidadari' tanpa sayapnya. Dia berada di dalam liang lahat, benar-benar mengikuti prosesi pemakaman. Namun, saat semua harus naik dan 'tempat' itu harus ditutup...
"Ayo nak. Naik!"
"TIDAK! Biar mas saja yang duluan" Dia tetap berada didalam sana dan melihat jasad Ibunya yang sebentarlagi akan ditutup.
Sangat menunjukkan betapa rindunya dia pada sang pemberi kasih
sayang sepanjang masanya. Betapa sesungguhnya ia tak ingin semua ini
terjadi, dan betapa tak sanggupnya ia melihat 'malaikat' tanpa sayapnya
sendiri didalam.
Mau tidak mau akhirnya, liang lahatpun ditutup. Dia naik, ikut menutup liang lahat itu. Merapikan bunga yang ditaburkan. Sesaat, aku melihat kearah belakang. Disana ada seorang bapak yang tak kuasa menahan air matanya yang ingin ikut meluapkan emosi. Suami yang sekaligus bapak dari anak-anak beliau, tidak cukup kuat untuk menyaksikan hal itu. Melihat pasangan seumur hidupnya, bidadari dunia akhiratnya harus mengalami ini. Harus pergi mendahuluinya dan harus sendiri didalam sana.
Sudah rapi. Liang lahat sudah tertutup tanah dengan taburan bungan diatasnya. Dia berusaha kuat menghadapi ini. Berusaha menancapkan karangan bunga di dekat nisan. Berusaha menancapkan kekuatan iman, ketabahan, dan keteguhan hati menghadapi ini.
Dia masih berada disana. Kami
pun begitu, tidak ingin membiarkan dia sendiri disana. Apalagi, seorang
temanku berkata,
"Iya, 3 atau 7 langkah orang terkahir meninggalkan tempat ini, malaikat akan datang dan mempertanyakan semua"
Mungkin dia tidak ingin, malaikat segera menanyakan semua pada Ibunya, sehingga ia sangat berat meninggalkan tempat itu. Tapi, itu
harus dilakukan...
Pergi.
Kami pun kembali berjalan menuju parkiran untuk mengambil sepeda dan kemudian pulang. Sesampainya disanaaaa.....
"Makasih ya rek, ayo mampir rumah lagi?" Pintanya dengan ramah.
"Tidak, makasih. Mau pulang aja, sudah sore" Jawab kami sedikit berat hati.
kemudian, ada seorang bapak yang menyapa,
*tersenyum* "Oh rekan-rekannya, ayo mampir rumah lagi" Sapa Bapak itu dengan ramah.
"Iya om, hehe udah om. Makasih. Mau pamit pulang" *salim*
melempar senyum juga kepada kakak, dan dua orang adiknya...
Setelah berdebat kecil dengan teman-teman, akhirnya dengan bergantian menjabat tangannya.
"Hey, pulang dulu yaaa... "
Sampai pada giliranku
"Hey" dengan responnya yang sumringah dan aaaah aku tidak tau.
Sedikit kaget, namun tampaknya tidak mungkin. Karena aku sudah berada
disana sejak tadi.
"Pulang dulu ya, ini dari anak-anak" Memberikan salam tempel padanya
"Sih, apa cung? Gausah. Gausah"
"Udaaaah, buat kamu lho. Dari anak-anak :) "
"Iyawes, makasih yaa " Ia menerima dengan senyum yang berbeda.
"He em, semangat yaa.. Belajar!" *pukpuk*
Kemudian, kami pulang dan keluarga duka pun kembali kerumah yang kini pasti berbeda....
Selamat jalan bu Rucky. Selamat jalan tante. Maaf, jika saya
tidak pernah berkunjung kerumah tante sewaktu tante masih sehat. Maaf,
jika saat itu saya tidak melihat tante untuk terakhir kalinya :')